Tujuh Hal Penting yang Membatalkan Puasa Ramadhan dan Sunnah


Sebenarnya ada banyak hal yang bisa membuat puasa Ramadhan maupun puasa Sunnah Anda batal, saya akan menyebutkan Tujuh (7) penyebab terpenting yang harus Anda pahami dan hindari, berikut ulasannya:

Hal Penting yang Membatalkan Puasa Ramadhan dan Sunnah

Pertama: Memasukkan suatu benda ke dalam tubuh dengan sengaja.

Memasukkan suatu benda dari luar tubuh ke dalam tubuh dengan sengaja, baik berupa makanan maupun bukan makanan, melalui bagian tubuh yang berlubang atau berongga. Hal ini didasarkan pada perkataan Ibnu Abbas: “Sesungguhnya batal disebabkan oleh sesuatu yang masuk, bukan oleh sesuatu yang keluar.”[1] Penggeneralisiran sesuatu yang masuk (tanpa keterangan rinci) ini menunjukkan bahwa ia membatalkan puasa, baik berupa makanan maupun bukan makanan.

Kriteria sesuatu yang membatalkan puasa adalah jika suatu benda (sedikit maupun banyak) masuk dari lubang yang terbuka ke dalam rongga tubuh. Ibnu Taimiyyah menjelaskan, puasa seseorang tidak akan batal akibat bercelak, suntik injeksi (ke urat nadi, bukan enerma yang dilakukan melalui lubang anus), meneteskan sesuatu ke dalam uretra (saluran kencing), operasi luka di dalam otak, dan operasi luka yang mengenai bagian dalam tubuh.

Termasuk pengecualian dalam masalah ini adalah kemasukan lalat, kulit gandum, asap dupa, debu jalanan, dan sebagainya. Puasa juga tidak batal jika mencicipi makanan lalu dimuntahkan, memamah makanan untuk bayi yang hanya dapat mengonsumsi mamahan makanan (dengan syarat tidak sampai masuk ke dalam perut), dan memakai wangi wangian.

Tujuh Hal Penting yang Membatalkan Puasa Ramadhan dan Sunnah

Kedua: Muntah dengan sengaja.

Seseorang wajib mengqadha puasanya apabila ia sengaja memuntahkan isi perutnya. Apabila ia muntah tanpa sengaja maka hal itu tidak membatalkan puasanya, hal ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Barangsiapa terserang muntah, maka ia tidak wajib mengqadha. Namun, jika berusaha memuntahkan maka hendaklah ia mengqadha.[2]

Ketiga: Haid dan Nifas (Wanita).

Haid dan nifas yang keluar meskipun hanya sesaat sebelum matahari terbenam akan membatalkan puasa dan wajib untuk mengqadha-nya. Jika seorang wanita mengalami haid atau nifas di siang hari bulan Ramadhan, dan ia terus melanjutkan puasanya, maka puasanya tidak sah. Hal ini merujuk pada penuturan Aisyah ra.: “Kami mengalami haid pada masa Rasulullah¬†shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu kami diperintahkan mengqadha puasa dan tidak diperintahkan mengqadha shalat.”[3]

Keempat: Ejakulasi

Ejakulasi, yaitu keluarnya sperma akibat hubungan seksual, meskipun dalam bentuk perzinahan. Begitu juga akibat ciuman, rabaan/sentuhan, onani/masturbasi, dan sejenisnya. Jika seseorang memeluk atau mencium istrinya dan ia keluar sperma, maka puasanya batal dan wajib mengqadha.

Apabila seseorang yang berpuasa di bulan Ramadhan melakukan senggama di siang hari tanpa udzur yang sesuai syariat atau karena lupa, maka puasanya batal, namun tetap diharuskan menahan diri seperti orang berpuasa sampai waktu berbuka. Ia juga diharuskan membayar denda dengan membebaskan seorang budak, atau (bila tidak mampu) berpuasa dua bulan berturut-turut, atau (bila tidak mampu) memberi makan enam puluh fakir miskin.

Bagaimana bila ejakulasi akibat mimpi basah ? Jika seseorang mimpi basah dan keluar sperma saat tertidur, maka tidak apa-apa.[4]

Kelima: Gila dan pingsan (tidak sadarkan diri).

Barangsiapa berniat puasa, lalu ia mendadak gila atau pingsan sepanjang siang dan tidak kunjung sadar pada sebagiannya maka puasanya tidak sah. Sebab puasa menurut istilah syara’ adalah menahan diri dengan niat, sementara orang gila maupun pingsan tidak memiliki kesadaran untuk berniat sehingga tidak ada puasa bagi mereka. Namun, apabila ia tersadar di sebagian siang maka puasanya sah, baik hal ini terjadi di awal siang maupun di akhirnya.

Keenam: Murtad (apostasi)

Murtad adalah keluar dari islam dengan pernyataan, perbuatan, dan keyakinan, merujuk pada firman Allah Suhanahu wa ta’ala:

Barangsiapa yang murtad di antara kamudari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat. (QS. Al-Baqarah (2): 217)

Ketujuh: Memutus niat puasa.

Barangsiapa berniat buka puasa, namun tidak juga berbuka (makan dan minum), sementara ia berpandangan bahwa memutus niat tidak membatalkan puasa, maka puasanya tidak batal. Namun jika ia benar-benar memutus niatnya (dibuktikan dengan langsung makan dan minum), maka puasanya batal.

Referensi:

Fiqh Ibadah (Thaharah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji).

Footnote:

  1. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dengan lafal:”Batal puasa oleh sesuatu yang masuk sementara wudhu oleh sesuatu yang keluar.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari secara mu’allaq, sedang Al-Baihaqi melansirnya dengan maushul. Lihat At-Talkhish Al-Hibr II/211.
  2. HR. Ad-Darimi, keempat penyusun Sunan, Ibnu Hibban, Ad-Daruquthni, dan Al-Hakim. Al-Bukhari mengatakan, aku tidak melihatnya tersimpan (mahfuzh). Sementara Al-Hakim menyatakan hadis ini shahih menurut kriteria Al-Bukhari dan Muslim. Hadis ini juga diriwayatkan dari Ibnu Umar secara maufuq. Lihat At-Talkhish Al-Hibr fi Takhriz Ahadits Ar-Rafi’i Al-Kabir II/180.
  3. Muttafaq ‘alaih: Diriwayatkan dari narasi Mu’adzah. Redaksi di atas merupakan salah satu riwayat Muslim. Sementara dalam riwayat versi At-Tirmidzi dan Ad-Darimi yang dilansir dari Al-Aswad Aisyah berkata: Kami mengalami haid di sisi Rasulullah Saw., maka beliau memerintahkan kami untuk mengqadha puasa dan tidak memerintahkan kami untuk mengqadha shalat. At-Tirmidzi mengatakan hadis ini hasan. Lihat At-Talkhis Al-Hibr I/163.
  4. Al-Fiqh ‘ala Madzahib Al-Arba’ah I/572.



Total: 0 voters
Tags: ,

No Responses

Leave a Comment